Proyek Nasional Dimulai, Pengguna Jalan Diminta Bersiap

Pengguna jalan di jalur Pantura Jawa Tengah diminta bersiap menghadapi potensi kepadatan lalu lintas pada awal 2026. Ruas Jalan Pantura Semarang–Demak akan menjalani proyek perbaikan dan peninggian badan jalan mulai Januari hingga April 2026. Proyek ini merupakan bagian dari program preservasi jalan nasional yang bertujuan meningkatkan ketahanan infrastruktur terhadap genangan air dan beban lalu lintas berat.

Meski manfaat jangka panjangnya dinilai besar, pengerjaan fisik jalan dipastikan berdampak langsung terhadap kelancaran arus kendaraan, terutama di titik-titik padat yang selama ini menjadi simpul aktivitas logistik dan transportasi harian masyarakat.

Pejabat Pembuat Komitmen (PPK) 3.1 Provinsi Jawa Tengah, Awang Nofika, menjelaskan bahwa pekerjaan ini bersifat strategis dan tidak dapat ditunda mengingat kondisi jalan yang kerap terdampak banjir rob serta tingginya intensitas kendaraan berat.


Fokus Preservasi Jalan Nasional Pantura

Awang Nofika menjelaskan bahwa proyek yang akan dilaksanakan merupakan bagian dari preservasi Jalan Nasional Batas Kota Semarang–Demak–Trengguli–Jepara hingga batas Kabupaten Kudus. Preservasi dilakukan untuk menjaga fungsi jalan agar tetap layak, aman, dan tahan terhadap kondisi lingkungan ekstrem.

“Untuk ketahanannya terhadap genangan dan beban lalu lintas,” kata Awang saat dikonfirmasi, Jumat (2/1/2026).

Dalam periode Januari hingga April 2026, pekerjaan utama berupa perkerasan beton akan dilakukan di sejumlah segmen. Langkah ini diambil karena struktur perkerasan lama dinilai tidak lagi optimal menahan beban kendaraan, khususnya truk logistik dengan muatan berat yang melintasi jalur Pantura setiap hari.


Peninggian Badan Jalan di Kawasan Kaligawe

Salah satu titik krusial yang menjadi perhatian adalah kawasan Kaligawe, tepatnya di KM 3+450 hingga KM 4+650 atau di sekitar Terminal Terboyo. Di kawasan ini, penanganan tidak hanya berupa perkerasan ulang, tetapi juga peninggian badan jalan.

Peninggian dilakukan untuk mengatasi persoalan genangan air yang kerap terjadi saat hujan deras maupun akibat rob. Metode yang digunakan meliputi pemasangan lapis fondasi agregat kelas A dan lapis aspal AC-BC (Asphalt Concrete – Binder Course).

“Dengan lapis fondasi agregat kelas A dan AC-BC,” ujar Awang.

Langkah ini diharapkan mampu meningkatkan elevasi jalan sehingga tidak mudah tergenang air, sekaligus memperpanjang usia layanan jalan nasional tersebut.


Potensi Kemacetan Tak Terelakkan

Selama masa pengerjaan, arus lalu lintas dipastikan akan mengalami gangguan. Penyempitan badan jalan, pengalihan arus sementara, serta aktivitas alat berat berpotensi memicu antrean kendaraan, terutama pada jam sibuk pagi dan sore hari.

Jalur Pantura Semarang–Demak dikenal sebagai salah satu koridor transportasi tersibuk di Jawa Tengah. Selain melayani mobilitas masyarakat lokal, ruas ini juga menjadi jalur utama distribusi logistik antarwilayah, menghubungkan kawasan industri, pelabuhan, dan pusat perdagangan.

Dengan adanya pekerjaan fisik selama empat bulan, pengendara diimbau untuk mengatur waktu perjalanan, mempertimbangkan jalur alternatif, serta meningkatkan kewaspadaan saat melintasi area proyek.


Penanganan Darurat Pascabanjir Sudah Dilakukan

Sebelum masuk tahap perbaikan permanen, pihak pengelola jalan nasional telah melakukan penanganan darurat pascabanjir di Jalan Nasional Kaligawe pada November 2025. Penanganan tersebut dilakukan untuk memastikan jalan tetap bisa dilalui menjelang akhir tahun, terutama saat lonjakan lalu lintas Natal dan Tahun Baru.

Penanganan darurat meliputi penambalan lubang, perataan permukaan jalan, serta penguatan sementara pada titik-titik yang mengalami kerusakan akibat genangan air berkepanjangan.

Namun, Awang menegaskan bahwa langkah darurat tersebut bersifat sementara dan tidak cukup untuk mengatasi persoalan struktural jalan dalam jangka panjang. Oleh karena itu, peninggian dan perkerasan beton dipilih sebagai solusi permanen.


Dampak Jangka Panjang bagi Ketahanan Infrastruktur

Meski berpotensi menimbulkan ketidaknyamanan sementara, proyek ini dinilai krusial untuk meningkatkan ketahanan Jalan Pantura terhadap tantangan lingkungan dan beban lalu lintas yang terus meningkat. Kawasan pesisir Semarang–Demak diketahui rentan terhadap rob dan penurunan muka tanah, sehingga struktur jalan membutuhkan desain yang lebih adaptif.

Dengan peninggian badan jalan dan perkerasan beton, pemerintah berharap risiko kerusakan berulang dapat ditekan, biaya perawatan jangka panjang berkurang, serta keselamatan pengguna jalan meningkat.

Selain itu, jalan yang lebih tahan genangan diharapkan dapat menjaga kelancaran distribusi logistik nasional, mengingat Pantura merupakan urat nadi perekonomian Pulau Jawa.


Imbauan bagi Pengguna Jalan

Pihak pengelola proyek mengimbau masyarakat dan pengguna jalan agar bersabar selama masa pengerjaan berlangsung. Pengendara diminta mematuhi rambu sementara, mengikuti arahan petugas di lapangan, serta tidak memaksakan kecepatan di area proyek demi keselamatan bersama.

Bagi kendaraan angkutan barang, disarankan untuk mengatur jadwal perjalanan di luar jam padat atau memanfaatkan jalur alternatif apabila memungkinkan. Koordinasi dengan pihak kepolisian dan dinas perhubungan setempat juga terus dilakukan untuk meminimalkan dampak kemacetan.


Jalan Strategis, Tantangan Bersama

Perbaikan Jalan Pantura Semarang–Demak menjadi gambaran dilema klasik pembangunan infrastruktur: antara kebutuhan peningkatan kualitas jalan dan dampak sementara terhadap mobilitas. Namun, dengan perencanaan yang matang dan dukungan masyarakat, proyek ini diharapkan dapat selesai tepat waktu dan memberikan manfaat jangka panjang.

Dengan rampungnya pekerjaan pada April 2026, Jalan Pantura diharapkan kembali berfungsi optimal sebagai jalur strategis nasional yang lebih kuat, aman, dan andal menghadapi tantangan lingkungan maupun beban lalu lintas yang terus meningkat.

Baca Juga : Empat Ruas Jalan Gunungkidul Rampung Diperbaiki 2025

Jangan Lewatkan Info Penting Dari : beritagram