Longsor Timbun Akses Vital di Kabupaten Agam
Akses jalan provinsi yang menghubungkan Lubuk Basung dan Bukittinggi kembali terganggu akibat material longsor yang menimbun badan jalan. Peristiwa ini terjadi di kawasan Pasar Maninjau, Nagari Maninjau, Kecamatan Tanjung Raya, Kabupaten Agam, Sumatra Barat. Material berupa pasir dan batuan besar menutup sebagian besar badan jalan serta menyumbat aliran sungai di bawah jembatan, sehingga menghambat arus lalu lintas dan meningkatkan risiko banjir bandang.
Kawasan ini memang dikenal rawan bencana, terutama saat intensitas hujan meningkat. Jalan Lubuk Basung–Bukittinggi merupakan jalur strategis yang menghubungkan pusat pemerintahan Kabupaten Agam dengan kota wisata Bukittinggi, sehingga gangguan sekecil apa pun berdampak besar terhadap mobilitas masyarakat dan distribusi logistik.
Empat Alat Berat Diterjunkan untuk Pembersihan
Untuk mengatasi kondisi darurat tersebut, Polres Agam bersama instansi terkait mengerahkan empat unit alat berat ke lokasi kejadian. Kapolres Polres Agam, AKBP Muari, menjelaskan bahwa alat berat yang digunakan terdiri dari tiga unit ekskavator dan satu unit loader.
Dua unit ekskavator difokuskan untuk membersihkan material yang menyumbat kolong jembatan di Sungai Muaro Pisang, sementara dua alat berat lainnya menangani material longsor yang menimbun badan jalan provinsi. Langkah ini dilakukan secara simultan agar proses pembersihan dapat berjalan lebih cepat dan efektif.
Menurut AKBP Muari, penyumbatan kolong jembatan menjadi persoalan utama. Ketika aliran sungai tersumbat, air akan meluap dan membawa material berbatuan ke atas jembatan serta badan jalan. Kondisi inilah yang memperparah dampak longsor dan membuat jalan sulit dilalui.
Fokus Normalisasi Sungai dan Badan Jalan
Pembersihan tidak hanya difokuskan pada badan jalan, tetapi juga pada normalisasi aliran Sungai Muaro Pisang. Alat berat dikerahkan untuk mengangkat pasir, batu, dan kayu yang menumpuk di kolong jembatan agar air dapat kembali mengalir secara normal.
“Kalau jembatan tidak tersumbat, maka air dan material berbatuan bisa mengalir lewat kolong jembatan, bukan lewat atas jembatan yang berdampak material menimbun badan jalan,” ujar AKBP Muari.
Normalisasi sungai dinilai sangat penting karena curah hujan di wilayah Tanjung Raya masih tergolong tinggi. Tanpa aliran yang lancar, potensi terjadinya banjir bandang akan semakin besar, terutama jika hujan deras turun secara tiba-tiba.
Ancaman Kantong Material di Hulu Sungai
Meski pembersihan telah dilakukan, pihak kepolisian dan pemerintah daerah mengingatkan bahwa ancaman belum sepenuhnya berakhir. Di bagian hulu sungai masih terdapat banyak “kantong material” longsor yang belum terbuka.
Kantong material ini berupa timbunan tanah, pasir, dan batuan di lereng maupun alur sungai bagian atas. Jika hujan dengan intensitas tinggi terus berlangsung, material tersebut berpotensi runtuh dan memicu banjir bandang baru yang dapat kembali menimbun jalan dan merusak infrastruktur.
Hal ini terbukti ketika alat berat masih bekerja di lokasi pada Minggu (28/12), material baru kembali turun dan menimbun sebagian badan jalan. Kondisi tersebut memaksa petugas untuk bekerja ekstra dan meningkatkan kewaspadaan selama proses pembersihan.
Imbauan Keselamatan bagi Warga dan Pengendara
Melihat kondisi yang masih rawan, Polres Agam mengimbau masyarakat dan pengguna jalan untuk meningkatkan kewaspadaan. Warga yang bermukim di sekitar aliran sungai diminta segera mengungsi ke lokasi yang lebih aman apabila hujan deras kembali turun.
Pengendara juga diminta untuk tidak memaksakan diri melintasi ruas jalan Lubuk Basung–Bukittinggi selama proses pembersihan berlangsung, terutama saat hujan. Arus sungai yang deras dan material berbatuan yang masih berpotensi turun dapat membahayakan keselamatan jiwa.
Langkah penutupan sementara jalan atau pengalihan arus lalu lintas dapat dilakukan sewaktu-waktu jika kondisi di lapangan memburuk. Keselamatan masyarakat menjadi prioritas utama dalam penanganan bencana ini.
Dampak Sosial dan Ekonomi
Tertutupnya jalan provinsi ini berdampak langsung pada aktivitas sosial dan ekonomi masyarakat. Pasar Maninjau sebagai pusat perdagangan lokal mengalami gangguan distribusi barang, sementara warga yang bergantung pada jalur ini untuk bekerja atau bersekolah harus mencari rute alternatif yang lebih jauh dan memakan waktu.
Sektor pariwisata juga ikut terdampak. Jalur Lubuk Basung–Bukittinggi kerap dilalui wisatawan yang menuju kawasan Danau Maninjau dan sekitarnya. Gangguan akses dapat menurunkan kunjungan wisata dan berdampak pada pendapatan masyarakat setempat.
Perlunya Mitigasi Jangka Panjang
Peristiwa longsor berulang di kawasan ini menegaskan pentingnya mitigasi bencana jangka panjang. Selain penanganan darurat, diperlukan upaya preventif seperti perbaikan sistem drainase, penguatan lereng rawan longsor, serta penataan kawasan hulu sungai.
Pemerintah daerah bersama instansi teknis diharapkan dapat melakukan kajian menyeluruh untuk mengurangi risiko bencana serupa di masa depan. Edukasi kepada masyarakat mengenai tanda-tanda awal longsor dan banjir bandang juga menjadi bagian penting dari mitigasi.
Penutup: Waspada di Tengah Musim Hujan
Pengerahan empat alat berat di Pasar Maninjau menjadi bukti keseriusan aparat dan pemerintah daerah dalam menangani dampak longsor di Kabupaten Agam. Namun, kondisi alam yang masih labil menuntut kewaspadaan semua pihak.
Selama musim hujan berlangsung, potensi bencana masih mengintai. Sinergi antara pemerintah, aparat, dan masyarakat sangat dibutuhkan agar penanganan darurat berjalan efektif dan risiko korban jiwa dapat diminimalkan.
Baca Juga : Kabel Udara Jalan Kartini Direlokasi ke Bawah Tanah
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : petanimal

