Gambaran Umum Situasi Penyaluran LPG
Penyaluran gas LPG bersubsidi di Kabupaten Bener Meriah mengalami keterlambatan serius akibat kondisi akses jalan yang rusak berat dan berlumpur setelah diguyur hujan deras berhari-hari. Situasi ini terjadi pada akhir Desember 2025 dan berdampak langsung pada distribusi LPG ke sejumlah kecamatan yang bergantung pada pasokan reguler untuk kebutuhan rumah tangga dan usaha kecil.
LPG merupakan salah satu kebutuhan vital masyarakat, terutama di wilayah pegunungan seperti Bener Meriah yang sebagian besar warganya masih bergantung pada gas elpiji untuk memasak dan kegiatan ekonomi skala kecil. Ketika distribusi terhambat, dampaknya tidak hanya terasa di dapur rumah tangga, tetapi juga pada aktivitas warung makan, UMKM, hingga layanan publik di tingkat desa.
Rincian Distribusi LPG per Kecamatan
Berdasarkan data pemerintah daerah, penyaluran LPG dilakukan secara bertahap dengan sistem pembagian per kecamatan. Total terdapat 11 kali pembagian yang setara dengan 5.500 tabung LPG. Rinciannya meliputi:
- Kecamatan Permata: dua kali pembagian
- Kecamatan Bandar: dua kali pembagian
- Kecamatan Wih Pesam: dua kali pembagian
- Kecamatan Bukit: dua kali pembagian
- Kecamatan Timang Gajah: dua kali pembagian
- Kecamatan Gajah Putih: satu kali pembagian
Skema ini dirancang agar distribusi dapat merata, namun kondisi lapangan membuat realisasinya tidak berjalan sesuai jadwal yang telah ditetapkan.
Kondisi Jalan Berlumpur Jadi Kendala Utama
Hujan deras yang mengguyur wilayah Bener Meriah menyebabkan sejumlah ruas jalan penghubung antar kecamatan mengalami kerusakan berat. Tanah menjadi lunak, berlumpur, dan licin, sehingga menyulitkan kendaraan pengangkut LPG yang harus membawa muatan berat.
Kepala Pelaksana Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPBD) Bener Meriah, Safriadi, S.Pd., M.Pd., melalui Staf Pelaksana Hendra Yenko, menjelaskan bahwa armada distribusi LPG terpaksa berjalan sangat lambat demi menjaga keselamatan.
“Medan jalan yang dilalui kendaraan pengangkut LPG dalam kondisi rusak parah. Ada titik-titik yang berlumpur dan rawan tergelincir, sehingga distribusi tidak bisa dipaksakan,” jelas Hendra Yenko saat dikonfirmasi.
Ia menambahkan bahwa iring-iringan distribusi melibatkan sekitar 11 hingga 12 unit mobil pengangkut LPG. Dengan kondisi jalan seperti itu, satu kendaraan saja yang terhambat dapat memengaruhi keseluruhan proses distribusi.
Upaya Koordinasi Antarinstansi
Penyaluran LPG ini melibatkan koordinasi lintas instansi, antara BPBD Bener Meriah dan Dinas Perdagangan setempat. Sekretaris Dinas Perdagangan Kabupaten Bener Meriah, Rahmayanti, SE, M.S.P, menyatakan bahwa pihaknya terus memantau kondisi lapangan dan berupaya menyesuaikan jadwal distribusi.
“Kami berusaha agar LPG tetap sampai ke masyarakat, meskipun harus melalui penyesuaian waktu. Keselamatan pengemudi dan kelancaran distribusi menjadi prioritas,” ujarnya.
Menurut Rahmayanti, penundaan distribusi bukan keputusan yang mudah. Namun, memaksakan kendaraan melintas di jalan rusak justru berisiko menimbulkan kecelakaan atau kerusakan armada yang lebih parah.
Dampak bagi Masyarakat
Keterlambatan penyaluran LPG ini dirasakan langsung oleh masyarakat di beberapa kecamatan. Sejumlah warga mengaku harus menghemat penggunaan gas atau beralih sementara ke bahan bakar alternatif seperti kayu bakar.
Bagi pelaku UMKM, khususnya warung makan dan pedagang kecil, keterlambatan LPG berdampak pada menurunnya kapasitas produksi. Beberapa di antaranya terpaksa mengurangi jam operasional demi menghemat stok gas yang tersisa.
Situasi ini menunjukkan betapa pentingnya infrastruktur jalan yang memadai bagi kelancaran distribusi logistik, terutama di daerah dengan kondisi geografis menantang seperti Bener Meriah.
Permohonan Maaf dan Jaminan Distribusi Lanjutan
Pemerintah Kabupaten Bener Meriah menyampaikan permohonan maaf kepada masyarakat atas keterlambatan distribusi LPG. BPBD dan Dinas Perdagangan memastikan bahwa penyaluran akan segera dilanjutkan begitu kondisi jalan memungkinkan.
“Kami mohon pengertian masyarakat. Begitu cuaca membaik dan jalan dapat dilalui dengan aman, distribusi LPG akan kami lanjutkan sampai seluruh alokasi tersalurkan,” tegas Hendra Yenko.
Pemerintah daerah juga mengimbau masyarakat agar tidak melakukan pembelian berlebihan atau penimbunan LPG, karena pasokan tetap tersedia dan hanya mengalami keterlambatan distribusi.
Tantangan Infrastruktur di Wilayah Pegunungan
Peristiwa ini kembali menyoroti persoalan klasik infrastruktur jalan di wilayah pegunungan Aceh. Curah hujan tinggi, kontur tanah yang labil, serta keterbatasan anggaran perbaikan jalan membuat distribusi logistik kerap terkendala.
Dalam jangka panjang, pemerintah daerah diharapkan dapat memperkuat pembangunan dan perawatan jalan, terutama jalur distribusi kebutuhan pokok seperti LPG, bahan pangan, dan obat-obatan. Infrastruktur yang andal tidak hanya mendukung kelancaran logistik, tetapi juga meningkatkan ketahanan daerah dalam menghadapi cuaca ekstrem.
Harapan ke Depan
Keterlambatan penyaluran LPG di Bener Meriah menjadi pengingat bahwa ketahanan distribusi energi sangat bergantung pada kesiapan infrastruktur dasar. Sinergi antara pemerintah daerah, instansi teknis, dan masyarakat menjadi kunci agar setiap kendala di lapangan dapat diatasi dengan cepat dan tepat.
Dengan komitmen pemerintah untuk melanjutkan distribusi secara bertahap dan evaluasi menyeluruh terhadap kondisi jalan, diharapkan kebutuhan LPG masyarakat Bener Meriah dapat kembali terpenuhi secara normal dalam waktu dekat.
Baca Juga : Proyek Jalan Fakfak–Siboru 26,6 Km Resmi Mulai Dikerjakan
Jangan Lewatkan Info Penting Dari : 1reservoir

