10 Hari Pencarian, Tim SAR Evakuasi 80 Bodypack Korban Longsor Cisarua
Operasi pencarian dan penyelamatan korban bencana longsor di wilayah Cisarua, Kabupaten Bandung Barat, terus berlanjut meski telah memasuki hari kesepuluh. Tim SAR gabungan telah mengevakuasi sebanyak 80 bodypack dari area longsor yang terjadi di Desa Pasirlangu. Namun, proses pencarian korban belum dihentikan karena identifikasi jenazah masih berlangsung.
Bencana longsor ini menjadi salah satu peristiwa paling memilukan di Jawa Barat dalam beberapa waktu terakhir. Selain menelan korban warga sipil, longsor juga merenggut nyawa personel TNI yang terlibat dalam upaya evakuasi. Kondisi medan yang berat, cuaca yang tidak menentu, serta material longsor yang tebal menjadi tantangan utama bagi tim di lapangan.
80 Bodypack Berhasil Dievakuasi
Incident Commander Longsor Cisarua, Ade Zakir, menjelaskan bahwa hingga hari kesepuluh operasi, total bodypack yang berhasil dievakuasi mencapai angka 80. Jumlah tersebut sesuai dengan data awal warga sipil yang dilaporkan hilang pasca-kejadian longsor.
Meski demikian, Ade menegaskan bahwa angka 80 bodypack belum dapat langsung disimpulkan sebagai 80 korban teridentifikasi. Hal ini disebabkan oleh kemungkinan satu identitas korban berada dalam lebih dari satu kantung jenazah, mengingat kondisi jenazah yang tidak utuh akibat tertimbun material longsor dalam waktu lama.
Identifikasi Korban Masih Berlangsung
Proses identifikasi korban menjadi fokus utama setelah evakuasi bodypack. Tim Disaster Victim Identification (DVI) terus bekerja mencocokkan data jenazah dengan laporan warga hilang. Identifikasi dilakukan melalui berbagai metode, termasuk pemeriksaan sidik jari, gigi, DNA, serta barang pribadi yang ditemukan bersama korban.
Ade menyampaikan bahwa pencarian tetap dilanjutkan hingga seluruh identitas korban benar-benar terverifikasi. Hal ini dilakukan untuk memastikan tidak ada korban yang terlewat dan agar data korban sesuai dengan laporan keluarga serta catatan kependudukan desa.
Operasi Diperpanjang hingga Sepekan
Meskipun telah mencapai target awal evakuasi, operasi SAR di lokasi longsor resmi diperpanjang. Tim gabungan berkomitmen melanjutkan pencarian hingga batas waktu perpanjangan operasi selama satu pekan ke depan. Keputusan ini diambil berdasarkan hasil evaluasi lapangan dan rekomendasi dari berbagai unsur yang terlibat.
Koordinasi intens dilakukan bersama Badan Nasional Pencarian dan Pertolongan untuk memastikan seluruh prosedur pencarian berjalan sesuai standar keselamatan. Perpanjangan operasi juga mempertimbangkan masukan dari keluarga korban yang berharap proses pencarian dilakukan secara maksimal.
Kronologi Singkat Bencana Longsor
Bencana longsor terjadi pada dini hari saat kondisi tanah di wilayah perbukitan Desa Pasirlangu mengalami kejenuhan akibat hujan dengan intensitas tinggi. Material tanah dan bebatuan dari lereng bukit runtuh dan menimpa permukiman warga yang berada di bawahnya.
Berdasarkan data awal, longsor tersebut berdampak terhadap 158 warga. Dari jumlah tersebut, 78 orang dilaporkan selamat, sementara 80 warga dinyatakan hilang dan diduga tertimbun material longsor. Skala kerusakan yang besar membuat proses evakuasi membutuhkan waktu panjang dan peralatan berat.
Medan Sulit dan Risiko Susulan
Tim SAR menghadapi tantangan besar selama proses pencarian. Kontur tanah yang labil serta potensi longsor susulan membuat setiap langkah pencarian harus dilakukan dengan sangat hati-hati. Penggunaan alat berat dibatasi pada titik-titik tertentu agar tidak memicu pergerakan tanah baru.
Selain itu, faktor cuaca juga kerap menghambat operasi. Hujan yang turun secara berkala meningkatkan risiko keselamatan bagi petugas, sehingga pencarian harus dihentikan sementara pada kondisi tertentu demi menghindari korban tambahan.
Duka Mendalam Gugurnya Prajurit Marinir
Tragedi longsor Cisarua tidak hanya menelan korban warga sipil. Dalam proses penanganan dan pencarian korban, sebanyak 23 prajurit TNI Marinir dilaporkan gugur. Mereka terlibat langsung dalam operasi SAR sebagai bentuk pengabdian kepada masyarakat.
Gugurnya prajurit tersebut menambah duka mendalam bagi keluarga besar TNI dan masyarakat luas. Pengorbanan mereka diapresiasi sebagai wujud dedikasi tanpa pamrih dalam misi kemanusiaan, meski harus menghadapi risiko besar di medan bencana.
Pendampingan Keluarga Korban
Pemerintah daerah bersama unsur terkait terus memberikan pendampingan kepada keluarga korban. Layanan psikososial disiapkan untuk membantu keluarga menghadapi trauma dan ketidakpastian selama proses identifikasi berlangsung. Selain itu, posko informasi dibuka agar keluarga dapat memperoleh perkembangan terbaru secara berkala.
Transparansi data dan komunikasi yang intens diharapkan dapat mengurangi kecemasan keluarga korban, sekaligus memastikan proses identifikasi berjalan akurat dan dapat dipertanggungjawabkan.
Penutup
Operasi pencarian korban longsor di Cisarua menjadi bukti kompleksitas penanganan bencana alam dengan skala besar. Meski 80 bodypack telah dievakuasi, proses pencarian dan identifikasi belum berakhir demi memastikan seluruh korban terdata dengan benar.
Dengan perpanjangan operasi hingga sepekan ke depan, tim SAR gabungan bersama Basarnas dan DVI terus berupaya maksimal di tengah tantangan medan dan cuaca. Tragedi ini sekaligus menjadi pengingat pentingnya mitigasi bencana dan kewaspadaan di wilayah rawan longsor, agar risiko serupa dapat diminimalkan di masa mendatang.
Baca Juga : Wabup Bojonegoro Sidak Jalan Rusak di Jalur Nasional
Cek Juga Artikel Dari Platform :ย beritabumi

